Apa Harus Menunggu Korban Jiwa?” Rumah Retak Warga Gempol Dihuni Anak-anak, Janji Relokasi Tak Jelas

Matasosial

INFO BENCANA80 Views
banner 468x60

sukabumimubarokah.id, Sukabumi — Di balik spanduk protes yang terpasang di depan rumah bercat hijau tua di Kampung Gempol, Desa Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, tersimpan kisah getir warga yang hidup di bawah ancaman bencana susulan.

Puluhan keluarga masih bertahan di rumah-rumah yang mengalami kerusakan berat akibat pergerakan tanah. Retakan menganga di dinding dan lantai, bangunan miring, serta penyangga kayu darurat menjadi pemandangan yang memperlihatkan betapa rapuhnya hunian warga.

banner 336x280

Salah satu penghuni rumah terdampak, Iis, mengungkapkan bahwa kondisi rumahnya semakin mengkhawatirkan sejak bencana tahun lalu. Dinding rumahnya miring, lantai rusak, dan sebagian struktur terpaksa ditopang agar tidak roboh.

“Kalau hujan turun, kami hampir tidak bisa tidur. Takut ambruk,” kata Iis saat ditemui di lokasi, Sabtu (20/12/2025).

Iis tinggal bersama suaminya, dua anak, serta dua cucu, salah satunya masih berusia beberapa bulan. Kekhawatiran akan keselamatan membuat salah satu cucunya akhirnya dibawa oleh ayahnya untuk tinggal sementara di tempat lain.

Menurutnya, warga sempat diminta mengungsi dan dijanjikan bantuan biaya kontrakan sebesar Rp600 ribu per bulan. Namun bantuan tersebut tak pernah diterima secara berkelanjutan.

Karena tidak sanggup menanggung biaya sewa, Iis dan keluarganya memilih kembali ke rumah yang telah rusak parah.

“Kalau harus ngontrak terus, kami tidak kuat biayanya. Mau tidur ya di sini,” ujarnya.

Untuk bertahan, lantai rumah yang semula berkeramik terpaksa diperbaiki seadanya oleh suaminya. Saat hujan deras, keluarga ini memilih tidur di dapur yang sempit karena dianggap lebih aman, meski penuh nyamuk. Anak-anak kerap menangis ketakutan karena trauma rumah roboh.

Kondisi memprihatinkan tersebut bukan hanya dialami Iis. Warga Kampung Gempol lainnya juga menghadapi situasi serupa. Sebagai bentuk protes, warga memasang spanduk bertuliskan “Kapan Kami Direlokasi? Apa Nunggu yang Mati Dulu?” tepat di depan rumah yang retak dan rawan ambruk.

Tokoh masyarakat Kampung Gempol sekaligus Ketua Posko Bencana 2024, Hasim, menegaskan bahwa keselamatan warga kini berada di ujung tanduk.

“Rumah-rumah ini jelas tidak layak huni. Warga bertahan karena tidak ada kepastian relokasi. Ini sangat berbahaya,” tegas Hasim.

Hingga kini, warga masih menunggu kejelasan lokasi relokasi maupun bantuan hunian sementara. Mereka berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera bertindak sebelum ancaman berubah menjadi tragedi nyata.

Nanan apon

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed