Kematian Bocah Jampangkulon: Luka di Tubuh, Napas Tak Tertolong

SukabuMimubarokah.id

banner 468x60

SukabumiMubarokah.id,- Sukabumi – Misteri meninggalnya seorang bocah laki-laki berinisial NS (12), warga Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, masih terus bergulir. Pihak medis dari RSUD Jampangkulon membeberkan kondisi terakhir korban sebelum dinyatakan meninggal dunia.

Dokter spesialis anak RSUD Jampangkulon, dr. Sulaiman Arigayota, menjelaskan bahwa saat korban tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD), kondisi yang paling mengkhawatirkan bukanlah luka di tubuhnya, melainkan gangguan sistem pernapasan yang sudah dalam keadaan berat.

banner 336x280

“Begitu pasien datang, prosedur pertama adalah triase untuk menentukan tingkat kegawatdaruratannya. Dari situ langsung terlihat bahwa masalah utama yang harus segera ditangani adalah pernapasannya,” ujar dr. Sulaiman kepada awak media, Minggu malam (22/6/2026).

Ia menerangkan, setelah proses triase, pasien langsung mendapatkan pemeriksaan lanjutan oleh dokter IGD, meliputi wawancara medis, pemeriksaan fisik menyeluruh, serta pengecekan tanda-tanda vital.

Dari keterangan keluarga dan hasil observasi awal, tim medis menemukan sejumlah luka di berbagai bagian tubuh korban.

“Berdasarkan laporan orang tua dan hasil pemeriksaan, memang terdapat luka di beberapa lokasi, mulai dari wajah, leher, badan, tangan hingga kaki,” jelasnya.

Menurut dr. Sulaiman, bentuk luka yang ditemukan cukup beragam. Ada luka lecet, lebam, luka yang telah mengering membentuk keropeng, hingga luka yang tampak seperti melepuh.

“Sebagian luka terlihat seperti bekas panas atau melepuh, namun secara medis kami belum bisa memastikan apakah itu akibat benda panas, benturan, atau proses penyakit tertentu. Itu perlu pendalaman lebih lanjut,” katanya.

Ia merinci, terdapat sekitar empat titik luka yang menyerupai luka bakar, tiga luka yang telah mengering, serta beberapa luka lebam dengan jumlah lebih banyak.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa fokus utama tim medis saat itu adalah menyelamatkan fungsi vital korban.

“Kami tidak langsung mendalami penyebab luka-luka tersebut karena kondisi pasien menunjukkan gangguan napas yang serius. Napasnya cepat dan tidak efektif, sehingga kami putuskan untuk perawatan intensif di ICU anak atau PICU,” ungkapnya.

Di ruang perawatan intensif, kondisi paru-paru korban dinilai tidak berfungsi optimal. Pasien membutuhkan bantuan alat pernapasan karena pola napasnya tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.

“Pola napasnya tidak adekuat, artinya tidak cukup untuk menopang kebutuhan oksigen. Itu sebabnya kami lakukan tindakan dengan alat bantu napas dan pemberian obat-obatan emergensi,” jelas dr. Sulaiman.

Penanganan medis dilakukan selama kurang lebih enam jam, terdiri dari empat jam di IGD dan dua jam di ruang ICU. Namun, kondisi korban terus memburuk meski terapi maksimal telah diberikan.

“Secara klinis, sesak napas sudah terlihat sejak awal kedatangan. Meskipun semua prosedur kegawatdaruratan sudah kami lakukan sesuai standar, kondisi pasien tetap mengalami penurunan,” terangnya.

Terkait beredarnya video yang memperlihatkan kondisi wajah korban, khususnya area hidung yang disebut-sebut berdarah, dr. Sulaiman memberikan klarifikasi.

“Di bagian hidung bukan luka berdarah aktif. Yang terlihat adalah luka yang sudah mengering dan membentuk krusta atau keropeng,” tegasnya.

Hingga kini, penyebab pasti kematian korban belum dapat dipastikan. Pihak medis menilai diperlukan pemeriksaan forensik lanjutan, termasuk kemungkinan autopsi, untuk mengetahui faktor utama yang menyebabkan korban meninggal dunia.

“Kami belum bisa menyimpulkan apakah kematian ini murni akibat gangguan pernapasan, trauma, paparan panas, atau ada proses penyakit lain. Semua itu harus dibuktikan melalui pemeriksaan lebih mendalam,” tutupnya. .

NA

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed