Ontohod Seorang Anak Pungut yang Durhaka

Sukabumimubarokah

banner 468x60

Di pinggir desa, berdiri sebuah gubuk reyot beratap seng berkarat. Di dalamnya, tangis bayi menggema, bercampur dengan suara batuk dan kelaparan. Rumah itu milik seorang buruh serabutan, hidupnya tak menentu, istrinya sakit-sakitan, dan anak-anaknya tak terurus.

Suatu sore, pasangan suami istri Pak Raka dan Bu Sari datang ke rumah itu. Mereka sudah lama mendengar kabar tentang seorang bayi lelaki yang hidup dalam kondisi mengenaskan. Setelah berbincang panjang dengan keluarga tersebut, tercapailah sebuah kesepakatan: bayi itu akan diserahkan kepada Pak Raka dan Bu Sari untuk dirawat dan dibesarkan dengan layak.

banner 336x280

“Kami tidak mampu, Pak… Bu… Kalau kalian bersedia, biarlah anak ini kalian rawat. Kami hanya ingin dia hidup lebih baik dari kami.”

Dengan hati penuh haru, Pak Raka menggendong bayi itu. Bu Sari membungkusnya dengan selimut hangat yang mereka bawa. Mereka memberinya nama Ontohod, dan sejak hari itu, ia menjadi anak mereka.

Ontohod tumbuh dalam pelukan kasih. Ia diajari sopan santun, diberi pendidikan, dibimbing dalam agama. Pak Raka menyebutnya “anugerah,” Bu Sari menyebutnya “penyambung hidup.” Mereka tak pernah menyebutnya anak angkat—hanya “anak kami.”

Namun, seiring waktu, harapan itu mulai retak. Ontohod tumbuh menjadi pemuda yang gelisah, mudah marah, dan sulit bersyukur. Ia menikah muda, lalu bercerai. Menikah lagi, lalu gagal lagi. Setiap kegagalan membuatnya semakin beringas, menyalahkan orang tua angkatnya, menuduh mereka sebagai penyebab nasib buruknya.

Ia terjerumus dalam narkoba, judi online, dan pergaulan yang merusak. Ia sering pulang dalam keadaan mabuk, memaki Bu Sari, mengancam Pak Raka, bahkan merusak rumah yang dulu dibangun dengan cinta.

Pak Raka mencoba sabar. Bu Sari berdoa setiap malam. Mereka mencoba rehabilitasi, konseling, bahkan meminta bantuan tokoh agama. Tapi Ontohod menolak semua. Ia berkata, “Kalian bukan orang tuaku. Jangan sok mengatur hidupku!”

Akhirnya, setelah bertahun-tahun mencoba menyelamatkan jiwa yang menolak diselamatkan, Pak Raka dan Bu Sari mengambil keputusan paling berat dalam hidup mereka. Di hadapan tokoh masyarakat dan saksi desa, mereka menyatakan:

“Kami, Raka dan Sari, melepaskan segala bentuk tanggung jawab atas Ontohod. Ia bukan lagi anak kami. Kami telah mencintainya sejak ia bayi merah, membesarkannya dengan doa dan harapan. Tapi kami tak bisa terus membiarkan kedurhakaan ini merusak keluarga kami. Kami memilih menyelamatkan rumah kami dari kehancuran.”

Ontohod pergi malam itu, tanpa menoleh. Rumah itu kembali sunyi. Tapi di dalam sunyi itu, ada keteguhan: bahwa kasih sayang pun punya batas. Bahwa menyelamatkan keluarga kadang berarti melepaskan seseorang yang tak lagi ingin diselamatkan.

Cerpen bersambugn

nama, tempat, dan certia Fiksi

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed