Rumah Dijual, Harapan Terluka: Kisah Janda Sukabumi yang Terasing

Sukabumimubarokah

News4 Views
banner 468x60

Sukabumi — Di sudut sunyi hutan Kampung Cibolang, Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, berdiri sebuah gubuk mungil berukuran 2×3 meter. Dindingnya dari bilik bambu, pintunya hanya selembar karung, dan atapnya tak mampu menahan hujan. Di dalamnya, seorang ibu bernama Iis (43) tinggal bersama dua anaknya, menggenggam hidup dengan segala keterbatasan yang tak terbayangkan.

Iis adalah janda asal Kampung Ciranji, Kecamatan Cikakak. Hidupnya berubah drastis sejak rumah yang dulu ia miliki dijual oleh sang suami. Kala itu, Iis tengah bekerja di Jakarta, menjemput nafkah dengan harapan. Namun kepulangan yang dinanti berubah menjadi luka: sang suami telah menikah lagi dan meninggalkannya tanpa tempat tinggal.

banner 336x280

“Dulu saya punya rumah, tapi pas kerja di Jakarta suami nikah lagi dan rumah dijual. Sejak cerai, sudah dua tahun saya tinggal di sini. Hidup serba pas-pasan, buat makan kadang ada yang ngasih,” kata Iis saat ditemui Sabtu (30/8/2025).

Untuk bertahan, Iis menyadap karet di sela-sela waktu. Namun penghasilan yang didapat tak menentu, seperti hujan yang datang tanpa janji.

“Kadang sebulan dapat Rp400 ribu, kadang nggak ada sama sekali,” ungkapnya.

Gubuk yang ia huni bukan sekadar tempat berlindung, melainkan saksi bisu perjuangan seorang ibu. Saat hujan turun, air merembes masuk, membasahi lantai dan tubuh anak-anaknya. Untuk mandi, ia berjalan ke selokan kecil di perbukitan. Air minum pun diambil dari aliran sawah terdekat—jernih tapi tak selalu aman.

Di tengah segala keterbatasan itu, anak sulungnya, Lastri (14), yang baru lulus Madrasah Ibtidaiyah, telah tiga tahun tak bersekolah. Seharusnya kini duduk di bangku kelas 3 SMP, namun mimpi itu terhenti karena tak ada biaya. Adiknya yang masih berusia 2,5 tahun hanya bisa bermain di sekitar kebun, jauh dari dunia anak-anak yang semestinya ceria.

“Anak saya yang besar nggak bisa lanjut sekolah. Sedih sekali, tapi mau bagaimana lagi, biaya nggak ada,” ucapnya lirih.

Meski memiliki KTP, alamat kependudukan Iis masih tercatat di kampung asalnya, Ciranji. Hal ini membuatnya kerap terlewat dari bantuan sosial yang seharusnya bisa meringankan beban hidupnya.

“KTP ada, tapi alamat lama. Jadi kalau ada bantuan, saya nggak pernah kebagian,” jelasnya.

Di tempat yang sama, mamah Keyet (53), warga yang mengenal Iis dengan dekat, menyuarakan harapan yang tak kalah dalamnya. Ia berharap pemerintah membuka mata dan hati, melihat kehidupan Iis dan kedua anaknya sebagai panggilan kemanusiaan.

“Kondisinya memprihatinkan, masa depan anaknya terancam. Pemerintah harus turun tangan,” kata mamah Keyet.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed