SukabumiMubarokah.id, 10 Maret 2026 — Malam Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam penuh rahmat dan cahaya ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk merenung, memperbaiki niat, dan memperkuat amanah dalam setiap langkah kehidupan. Di Kabupaten Sukabumi, semangat Lailatul Qadar dijadikan inspirasi oleh Dinas Perikanan untuk memperkuat tata kelola yang tertib, adil, dan penuh keberkahan.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi, Sri Padmoko A.Pi., M.P., menyampaikan bahwa Lailatul Qadar bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang keheningan yang melahirkan kesadaran akan tanggung jawab besar sebagai pelayan masyarakat dan penjaga sumber daya alam.
“Lailatul Qadar mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, merenung, dan memperkuat niat. Di sektor perikanan, itu berarti menjaga laut dengan hati, melayani masyarakat dengan jujur, dan memastikan setiap kebijakan membawa keberkahan. Inilah semangat Sukabumi Mubarokah,” ujar Sri Padmoko.
Ia menambahkan bahwa tata kelola perikanan harus dijalankan dengan kesadaran spiritual dan sosial. Dinas Perikanan terus memperkuat pembinaan, pengawasan, dan pendampingan kepada nelayan serta pembudidaya ikan agar setiap langkah pembangunan berakar pada nilai amanah dan keberkahan.
“Malam Lailatul Qadar adalah rahasia Allah, tapi semangatnya bisa kita rasakan dalam keheningan, dalam pelayanan, dan dalam kerja yang tulus. Mari kita jadikan momen ini sebagai pengingat bahwa keberkahan hadir ketika kita bekerja dengan niat baik dan semangat berbagi. Semangat Sukabumi Mubarokah harus menjadi pedoman kita dalam setiap langkah,” tutupnya.
Sejarah Lailatul Qadar
Lailatul Qadar disebut dalam Surah Al-Qadr sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam ini diyakini bertepatan dengan turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira, Jabal Nur, sekitar usia beliau 40 tahun. Peristiwa itu menjadi tonggak awal kenabian dan turunnya Al-Qur’an, menjadikan Lailatul Qadar sebagai malam penuh kemuliaan dan keberkahan. Tradisi umat Islam mencari malam ini pada sepuluh malam terakhir Ramadan, dengan keyakinan bahwa tanda-tandanya hadir dalam keheningan, ketenangan, dan cahaya spiritual.















