Sukabumi, Jum’at 05 September 2025,- Dalam semilir angin Sukabumi yang membawa aroma kopi dan harapan dari Gurilaps, Gunung, Rimba, Laut, pantai, dan sungai, Kabupaten Sukabumi kembali meneguhkan jati dirinya: daerah yang maju, unggul, berbudaya, dan penuh berkah. Di tengah denyut pembangunan dan semangat gotong royong, Pemerintah Kabupaten Sukabumi di bawah kepemimpinan Bupati Drs. H. Asep Japar, M.M., memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 2025 dengan tema yang menggugah: “Momentum Meneladani Akhlak Mulia Rasulullah SAW, Wujudkan Kehidupan yang Damai, Rahmatan Lil ‘Alamin.”
dari tema tersebut, saya—Ruslan Raya/Mata Sosial—memandang bukan hanya seremoni, tapi gema spiritual yang menyatu dengan denyut kebijakan dan harapan rakyat. Bupati Asep Japar, yang berjuang dengan visi “Sukabumi Mubarokah”, tidak sekadar menyampaikan ucapan selamat Maulid. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan akhlak Rasulullah sebagai fondasi pembangunan:
- Kejujuran dalam birokrasi
- Kasih sayang dalam pelayanan publik
- Keteguhan dalam menghadapi tantangan sosial
- Keadilan dalam menata ruang dan sumber daya
Saya ayakin, baginya bahwa Maulid bukan sekadar mengenang, tapi menghidupkan. “Kita ingin Sukabumi menjadi daerah yang bukan hanya maju secara fisik, tapi juga damai dalam batin. Akhlak Rasulullah adalah kompas kita,” kalau saya gambarkan dalam kata-kata kira-kira seperti itu.
Dari Mimbar ke Jalanan: Spirit Maulid dalam Kehidupan Nyata
Masyarakat Sukabumi pastinya melihat bagaimana semangat Maulid ini diterjemahkan ke dalam program nyata:
- Pembangunan jalan desa yang tidak hanya membuka akses, tapi juga membuka harapan
- Pelatihan UMKM berbasis nilai kejujuran dan keberkahan
- Revitalisasi ruang publik sebagai tempat silaturahmi dan edukasi
- Pendidikan karakter di sekolah-sekolah yang menanamkan nilai sabar, jujur, dan peduli
- Perbaikan dan pembangunan infrastruktur dengan skala prioritas untuk mewujudkan Sukabumi Mubarokah.
Maulid tahun ini bukan hanya perayaan, tapi pernyataan: bahwa Sukabumi ingin menjadi rahmat bagi semua, bukan hanya bagi yang dekat dengan kekuasaan, tapi juga bagi yang jauh dari sorotan.
Menyemai Akhlak, Menuai Kedamaian
Di tengah tantangan zaman, dari krisis moral hingga tekanan ekonomi, Sukabumi memilih jalan yang tidak biasa: meneladani Rasulullah sebagai strategi pembangunan. Ini bukan retorika, tapi arah kebijakan. Dari ruang rapat hingga warung kopi, dari kantor desa hingga pesantren, gema Maulid ini menyatukan harapan.
kalau saya boleh tebak, mungkin, Pak Asep Japar mengajak kita semua untuk tidak hanya mendengar, tapi meresapi. Karena ketika akhlak mulia menjadi dasar kebijakan, maka pembangunan bukan hanya soal angka, tapi soal rasa. Dan rasa itu—seperti yang diajarkan Rasulullah—harus menyentuh semua, dari anak yatim hingga pemimpin negeri.















