Gubuk Rapuh Jadi Tempat Tinggal Lansia Korban Longsor Sukabumi

Sukabumi Mubarokah

News183 Views
banner 468x60

Sukabumi – Di lereng kawasan Hutan Jeruk Mipis, sebuah bangunan darurat berdiri di antara pepohonan liar dan tanah yang rawan bergerak. Bangunan itu nyaris roboh, beratapkan potongan seng tua yang ditahan plastik sobek, tanpa pelindung dinding yang layak.

Saat angin bertiup, gubuk tersebut bergoyang, seolah menantang waktu.
Di tempat itulah Uloh, seorang lansia berusia 70 tahun, bertahan hidup seorang diri.

banner 336x280

Hari-harinya diisi dengan duduk diam di atas rangka bambu sederhana. Tubuhnya yang semakin renta kerap digerogoti nyeri, terutama di bagian kaki yang pernah tertimpa reruntuhan saat bencana melanda.

Uloh merupakan warga Kampung Babakan Cisarua, RT 02 RW 15, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.

Sudah sembilan bulan ia hidup dalam keterasingan setelah bencana longsor dan banjir besar pada Maret 2025 menghapus hampir seluruh jejak kehidupannya.

Rumahnya hancur, harta benda lenyap, dan istrinya, Ooy, meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

Malam kejadian masih tersimpan kuat dalam ingatannya. Ia mengisahkan bagaimana tanah bergerak tiba-tiba, disusul bangunan yang runtuh tanpa memberi kesempatan menyelamatkan diri.

“Kejepit semuanya, tidak bisa bergerak,” katanya dengan suara pelan saat ditemui, Kamis (8/1/2026).

Dalam kondisi gelap dan kacau, Uloh berusaha keluar dari timbunan material bangunan menggunakan tenaga yang tersisa.

Tidak ada pertolongan datang saat itu, karena warga sekitar pun berjuang menyelamatkan diri masing-masing.

“Tangan saya gali tanah sendiri. Luka kena kaca dan batu. Badan cuma bisa geser sedikit-sedikit,” ujarnya.

Salah satu kakinya terhimpit kayu sehingga ia tak mampu berdiri.

Ketika akhirnya berhasil keluar, yang tersisa hanyalah puing. Sang istri tak ditemukan dalam keadaan selamat.

Sejak saat itu, Uloh hidup dengan trauma yang terus menghantuinya.

Ia sebenarnya memiliki anak yang tinggal di wilayah Pasir Pogor. Namun Uloh memilih tidak bergantung pada keluarganya.

Ia mengaku takut merepotkan dan merasa lebih mampu bertahan sendiri, meski harus tinggal di tengah hutan. Faktor ketersediaan air dari aliran sungai juga menjadi pertimbangannya.

Namun bertahan hidup di alam terbuka bukan perkara mudah. Selain keterbatasan makanan, Uloh harus menghadapi gangguan hewan liar.

Bantuan bahan pangan yang diterimanya sering kali rusak akibat ulah monyet hutan.
“Beras habis, karungnya disobek monyet,” katanya

sambil menunjuk sisa-sisa simpanan yang tak lagi bisa digunakan.

Uloh juga pernah menempati lokasi pengungsian sementara di sebuah sekolah. Namun ia memilih pergi karena merasa tidak mendapatkan tempat yang layak dan kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi.

Kini, satu-satunya harapan Uloh adalah mendapatkan tempat tinggal yang aman. Setiap hujan turun, ia selalu diliputi rasa cemas karena air dengan mudah menetes dari atap gubuknya.

Ia khawatir bangunan rapuh itu tak mampu bertahan jika hujan deras datang.
Sungai Berubah, Permukiman Hancur
Ketua RT 02 RW 15, Heri, menjelaskan bahwa kondisi Uloh bukan karena pembiaran warga sekitar.

Ia menyebut, warga dan aparat lingkungan telah berulang kali mengajak Uloh untuk tinggal di rumah yang lebih aman.

“Kami sudah mengajak beberapa kali, bahkan warga siap menampung. Tapi beliau memilih tetap di sini,” ujar Heri.

Heri menambahkan bahwa hampir seluruh warga di kampung tersebut merupakan korban dari bencana yang sama. Ia juga meluruskan anggapan bahwa permukiman sebelumnya berada di area terlarang di sekitar sungai.

“Sebelum bencana, sungai posisinya jauh dari rumah warga,” katanya.

Banjir bandang yang terjadi pada Maret 2025 mengubah bentang alam kawasan tersebut secara drastis. Aliran sungai berpindah jalur dan langsung menghantam permukiman warga.

“Air datang dari arah yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Banyak rumah terseret arus, lainnya rusak parah,” jelas Heri.

Ia mengungkapkan bahwa rumah miliknya juga mengalami kerusakan akibat peristiwa tersebut.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed