Jika Negara Ingin Bertahan, Ia Harus Belajar Menangis Bersama Rakyatnya
Jika Negara, Ingin Bertahan, Ia Harus, Belajar Menangis, Bersama Rakyatnya,
🖋️ Oleh: Ruslan Raya – Mata Sosial
Agustus 2025 telah berlalu, namun bara emosinya belum padam. Di jalan-jalan ibu kota, di lorong kampus, dan di warung kopi pinggir desa, rakyat masih membicarakan luka yang belum dijahit. Demonstrasi besar-besaran, kerusuhan, dan penjarahan bukan sekadar gejolak sesaat. Ia adalah akumulasi rasa yang lama diabaikan.
Negara, dalam bentuknya yang paling formal, merespons dengan pidato, pasukan, dan pernyataan pers. Namun dalam bentuknya yang paling hakiki—sebagai rumah bersama—ia belum sepenuhnya hadir. Maka saya katakan: jika negara ingin bertahan, ia harus belajar menangis bersama rakyatnya.
Politik yang Kehilangan Rasa
Kita terlalu lama mengukur stabilitas dengan angka: pertumbuhan ekonomi, indeks kepercayaan, dan neraca perdagangan. Tapi siapa yang mengukur rasa? Siapa yang mencatat air mata ibu yang anaknya ditangkap tanpa proses hukum? Siapa yang mendengar keluhan sopir ojol yang kehilangan motor bahkan nayawa karena bentrok aparat?
Kerusuhan bukan hanya soal keamanan. Ia adalah ekspresi dari politik yang kehilangan rasa. Ketika rakyat membakar kantor, mereka sebenarnya membakar ilusi bahwa negara masih peduli.
Birokrasi yang Menyentuh Tanah
Saya percaya birokrasi bisa menjadi jembatan rasa. Surat edaran, instruksi menteri, dan pidato presiden harus mengandung getaran kemanusiaan. Kita tidak sedang membangun negara untuk dipuji dunia. Kita sedang merawat luka agar generasi berikutnya tidak mewarisi dendam.
Kebijakan yang tidak menyentuh rasa akan ditolak oleh sejarah. Maka, mari kita ubah paradigma: dari represif ke reflektif, dari retorika ke rasa, dari pembangunan fisik ke rekonstruksi sosial.
Air Mata sebagai Modal Politik
Air mata rakyat bukan ancaman. Ia adalah undangan. Undangan bagi negara untuk hadir bukan sebagai penguasa, tapi sebagai pelayan rasa. Negara yang menangis bersama rakyatnya akan dikenang bukan sebagai rezim, tapi sebagai rumah.
Saya menyerukan kepada para pemimpin: jangan hanya mengundang tokoh masyarakat ke ruang rapat. Undanglah rasa ke dalam kebijakan. Dengarkan suara dari lorong sempit, dari desa yang jauh, dari anak muda yang menulis puisi di tengah demonstrasi.
Karena hanya negara yang mampu menangis bersama rakyatnya, yang akan bertahan dalam badai zaman.
“Kita tidak kekurangan undang-undang, pidato, atau strategi. Yang kita kekurangan adalah keberanian untuk merasa. Karena negara yang sibuk membangun gedung tapi lupa membangun hati, akan berdiri megah di atas tanah yang retak. Dan bila suara rakyat terus dianggap bising, bukan peringatan—maka sejarah akan mencatat: bukan rakyat yang menjatuhkan negara, tapi negara yang menolak menangis bersama rakyatnya.”















