Pergeseran Tanah Kian Parah: Hujan Deras Ambrukkan 15 Rumah Warga Gempol Sukabumi

Sukabumimubarokah

INFO BENCANA77 Views
banner 468x60

 

Sukabumimubarokah.id,  — Pergeseran tanah yang telah berlangsung selama satu tahun tanpa penanganan serius akhirnya kembali memakan korban. Hujan deras yang mengguyur Kampung Gempol, Desa Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jumat dini hari, 26 Desember 2025, memperparah kondisi tanah dan menyebabkan 15 rumah warga ambruk.

banner 336x280

Kawasan tersebut sejatinya telah ditetapkan sebagai wilayah rawan pascabencana 2024. Sebanyak 101 rumah sebelumnya dinyatakan tidak layak huni, namun warga terpaksa kembali menempati lokasi karena tidak adanya pilihan lain.

Ketiadaan relokasi dan tidak berjalannya bantuan hunian membuat warga bertahan di atas tanah yang terus bergerak.

Hujan deras yang turun sejak malam hari memicu pergeseran tanah dalam skala besar. Dalam hitungan jam, bangunan warga tidak lagi mampu bertahan. Sejumlah rumah roboh, sebagian lainnya mengalami kerusakan struktural berat hingga tidak bisa ditempati.

Ketua Posko Bencana Kampung Gempol tahun 2024, Hasim, menegaskan bahwa bencana susulan ini merupakan dampak dari pergeseran tanah yang dibiarkan terlalu lama tanpa penanganan menyeluruh.

“Ini pergeseran tanah yang cukup parah dan sudah berlangsung hampir satu tahun. Tidak ada penanganan serius. Begitu hujan deras turun, dampaknya langsung ambruk,” ujar Hasim.

Menurutnya, sedikitnya 15 rumah ambruk dan terdampak langsung. Beberapa di antaranya milik warga bernama Bah Teteng, Andi, Yeni, Soleh, Dedeh hingga’. Air hujan dan material tanah masuk ke kawasan permukiman, membuat warga panik dan menyelamatkan diri.

Akibat kejadian tersebut, sebagian warga kembali mengungsi secara darurat ke rumah kerabat.

Bahkan, dalam satu rumah kini dihuni hingga tiga sampai empat keluarga karena keterbatasan tempat yang aman.

Salah satu warga terdampak, Dedeh, mengaku tidak bisa tidur sejak hujan deras turun semalaman. Suara bangunan runtuh membuat keluarganya bergegas keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

“Begitu hujan deras, rumah langsung ambruk. Kami hanya bisa keluar menyelamatkan diri,” katanya.

Ironisnya, kondisi ini terjadi di tengah belum adanya kepastian relokasi bagi warga terdampak bencana sejak 2024. Warga menilai pergeseran tanah di Kampung Gempol seolah dibiarkan, hingga akhirnya kembali menimbulkan kerusakan yang sangat parah.

Kini, setiap hujan turun, kekhawatiran kembali menghantui warga. Pergeseran tanah masih berlangsung, sementara rumah-rumah yang tersisa berada dalam kondisi jona merah.

Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan dengan langkah nyata dan menyeluruh. Mereka menegaskan, bencana ini tidak boleh terus berulang akibat kelalaian dan lambannya penanganan.

NA

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed