Tina Wiryawati Sapa Budaya Padepokan Cimande Riung Gunung Kuningan

DPRD20 Views
banner 468x60

KUNINGAN, Minggu 13 September 2026 – Minggu siang suasana di Kuningan terasa berbeda. Di sebuah titik pertemuan warga, terdengar alunan musik tradisional dan sorak semangat latihan pencak silat.

Di tengah kegiatan itu hadir Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hj. Tina Wiryawati, SH., MM. Ia datang bukan untuk pidato politik. Ia datang untuk duduk bersama, mendengar, dan menyapa para pegiat budaya.

banner 336x280

Kegiatan ini dikemas dalam acara Sapa Budaya Bersama Warga. Tujuannya satu, memastikan seni dan tradisi Kuningan tetap hidup di tengah gempuran budaya luar.

Bertemu Pegiat Cimande dan Riung Gunung

Dalam pertemuan tersebut, Tina bertemu langsung dengan dua komunitas budaya. Yang pertama Padepokan Cimande Kabupaten Kuningan atau PPCA Awirarangan. Yang kedua Padepokan Riung Gunung dari Kadugede.

Kedua padepokan ini sudah lama aktif membina anak-anak dan remaja. Mereka mengajarkan seni bela diri, seni musik, dan nilai-nilai luhur yang ada di Kuningan.

Tina mengapresiasi semangat mereka. Menurutnya, menjaga tradisi tidak bisa hanya mengandalkan nostalgia. Harus ada aksi nyata di lapangan.

Ia juga melihat langsung proses latihan. Anak-anak tampak antusias. Mereka berlatih jurus, memukul kendang, dan menghafal filosofi yang diajarkan para pelatih.

Apresiasi dari Padepokan Riung Gunung

Salah satu perwakilan dari Padepokan Riung Gunung, Deni Darmadi atau Mang Dadawuk, ikut menyampaikan curahan hati. Ia mengaku senang karena aspirasinya didengar langsung oleh wakil rakyat.

Menurut Deni, tidak mudah bagi pegiat budaya di akar rumput untuk mendapatkan perhatian. Namun kali ini berbeda.

“Alhamdulillah, saya tidak muluk-muluk. Di HP saya banyak nomor anggota dewan, tapi ketika saya sampaikan keluhan, beliau (Bunda) yang langsung merespons dan menjawab,” ungkap Deni.

Ia mencontohkan bentuk dukungan yang sudah diberikan. Saat padepokan butuh alat peraga untuk latihan, bantuan itu datang. Bagi mereka, sarana itu penting untuk membina generasi muda.

“Bunda mengerti dan mengangkat derajat kami. Kami berjuang bukan karena kami ahli, tapi kami berusaha mempertahankan budaya yang ada di Kabupaten Kuningan,” katanya.

Bagi Deni dan kawan-kawan, perjuangan mereka bukan soal mencari popularitas. Mereka hanya ingin memastikan anak-anak Kuningan tidak lupa daratan.

“Tujuan utamanya adalah membina mental anak-anak agar mereka tidak lupa dengan budaya kita sendiri,” tambahnya.

Resmi Jadi Ibu Angkat Dua Padepokan

Momen haru terjadi di akhir acara. Sebagai bentuk terima kasih, para pegiat budaya memberikan gelar kehormatan kepada Tina Wiryawati.

Ia secara resmi dikukuhkan sebagai Ibu Angkat Padepokan Cimande PPCA Kabupaten Kuningan dan Padepokan Riung Gunung.

Gelar itu bukan sekadar simbol. Para pegiat berharap Tina bisa terus menjadi jembatan antara komunitas budaya dengan pemerintah dan kebijakan.

Tina pun menerima dengan senang hati. Ia berjanji akan terus mengawal dan memperjuangkan kepentingan para seniman dan pegiat budaya di Senayan dan di DPRD Jabar.

Jangan Sampai Budaya Kita Dilestarikan Orang Lain

Dalam sambutannya, Tina menyampaikan keprihatinan. Ia melihat banyak tradisi daerah yang mulai ditinggalkan anak muda. Padahal di saat yang sama, budaya luar justru masuk dengan cepat lewat media sosial.

Menurutnya, tugas melestarikan budaya tidak bisa dipikul sendiri oleh para seniman. Pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat harus ikut bergerak.

“Jangan sampai kearifan lokal dan tradisi budaya kita lenyap, malah lebih dilestarikan oleh orang asing. Pengenalan tradisi budaya kepada generasi muda ini sangat penting,” ujar Tina.

Ia menekankan, budaya adalah identitas. Jika identitas hilang, maka jati diri bangsa juga akan goyah. Karena itu pengenalan sejak dini harus terus dilakukan.

Padepokan dinilai sebagai tempat paling tepat. Di sana anak-anak tidak hanya belajar gerakan. Mereka juga belajar disiplin, hormat kepada guru, dan cinta tanah kelahiran.

Harapan Agar Tradisi Tetap Hidup

Tina berharap ke depan akan lahir lebih banyak ruang seperti padepokan. Ruang yang membuat anak muda bangga dengan daerahnya sendiri.

Ia juga mendorong kolaborasi. Wakil rakyat harus rajin turun. Seniman harus terus berkarya. Pemerintah harus hadir lewat program dan anggaran.

Kolaborasi seperti inilah yang diharapkan bisa menjaga warisan budaya Kuningan. Agar tidak tergerus zaman dan tetap relevan untuk generasi berikutnya.

Lebih dari sekadar tarian atau jurus silat, pelestarian budaya juga berfungsi sebagai benteng. Benteng untuk membentuk karakter anak muda agar tidak tercerabut dari akar.

Dengan begitu, mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat, punya prinsip, dan tetap membawa nama Kuningan ke mana pun mereka pergi.

Acara Sapa Budaya ditutup dengan foto bersama dan pertunjukan singkat dari anak-anak padepokan. Tepuk tangan warga mengiringi setiap penampilan.

Bagi warga, kehadiran Tina Wiryawati memberi harapan baru. Bahwa budaya bukan masa lalu yang ditinggalkan. Budaya adalah masa depan yang harus diwariskan.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed