Kupang — Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Putih Sari dari Fraksi Partai Gerindra menyoroti tingginya kasus Tuberkulosis (TB) dan HIV/AIDS di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), serta mendorong penguatan pengawasan dan pendampingan kesehatan jiwa bagi pasien.
Menurut tokoh perempuan Partai Gerindra tersebut, penanganan TB dan HIV/AIDS tidak cukup hanya berfokus pada penemuan kasus, pengobatan, logistik, dan pembiayaan, tetapi juga harus menyentuh aspek kesehatan mental dan dukungan psikososial pasien.
“Langkah tersebut penting untuk mencegah putus obat, meningkatkan keberhasilan pengobatan, mengurangi stigma, dan memperkuat kualitas hidup pasien,” ujar Putih Sari kunjungan kerja di Kantor Wali Kota Kupang, Munggu 24/5
Kader dari Partai Gerindra yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto ini menjelaskan, Kota Kupang saat ini menghadapi beban kasus TB dan HIV/AIDS yang cukup tinggi dibanding wilayah lain di Provinsi NTT. Kondisi itu dipengaruhi posisi Kupang sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan layanan kesehatan rujukan di kawasan timur Indonesia.
“Mobilitas penduduk yang tinggi, arus rujukan pasien lintas kabupaten/kota, kepadatan permukiman di wilayah perkotaan, serta tantangan sosial-ekonomi menjadikan Kota Kupang sebagai salah satu daerah prioritas dalam pengendalian penyakit menular, khususnya TB dan HIV/AIDS,” katanya.
Dalam penanganan TB, Kota Kupang tercatat sebagai wilayah dengan angka penularan urban tertinggi di NTT dan menempati posisi kedua tertinggi secara provinsi setelah Sumba Barat Daya.
Berdasarkan data pemerintah daerah, jumlah kasus TB di Kota Kupang berada pada kisaran 1.200 hingga 1.300 kasus setiap tahun.
“Tingginya beban TB tersebut dipengaruhi oleh masih adanya tantangan dalam penemuan kasus aktif, investigasi kontak, kepatuhan pengobatan, serta kondisi lingkungan seperti kepadatan hunian dan ventilasi rumah yang kurang memadai,” ungkapnya.
Putih Sari juga menyoroti keterbatasan sumber daya pada sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan di sekitar wilayah Kupang yang dinilai masih berdampak terhadap rendahnya cakupan treatment coverage (TC).
Kondisi itu, menurutnya, berpotensi menyebabkan masih banyak kasus TB yang belum ditemukan maupun belum tertangani secara optimal.
Sementara dalam penanganan HIV/AIDS, Kota Kupang juga menghadapi peningkatan kasus yang cukup signifikan.
Data Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) dan Pemerintah Kota Kupang hingga tahun 2025 mencatat jumlah kasus HIV/AIDS di wilayah tersebut telah mencapai sekitar 2.500 kasus.
“Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa Kota Kupang tidak hanya menjadi pusat layanan HIV/AIDS di NTT, tetapi juga menjadi daerah dengan tantangan besar dalam pencegahan, deteksi dini, dan kesinambungan pengobatan,” ujar Putih Sari.
Ia turut menyoroti mulai terdampaknya kelompok usia produktif, termasuk pelajar, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga.
Karena itu, Putih Sari menilai diperlukan penguatan edukasi kesehatan reproduksi serta pencegahan berbasis komunitas untuk menekan penyebaran kasus di masyarakat.













