Warga Babakan Cisarua Soroti Ketidakadilan Bantuan Kontrakan Pasca Banjir

sukabumionline.id

News166 Views
banner 468x60

Sukabuimubarokah,id,- Sukabumi- Nasib puluhan keluarga korban banjir bandang Sungai Cidadap di Kampung Babakan Cisarua, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, hingga kini belum menunjukkan titik terang.

Meski bencana hebat tersebut telah berlalu hampir satu tahun, warga masih hidup dalam keterbatasan, bahkan sebagian terpaksa menetap di atas puing-puing rumah yang hancur.

banner 336x280

Permukiman warga di RT 02 RW 15 mengalami kerusakan parah akibat terjangan arus deras bercampur lumpur dan pasir. Sejumlah bangunan rata dengan tanah, sementara lainnya ambruk dan tertimbun material banjir. Puncak kehancuran terjadi pada bencana akhir Desember 2025 yang nyaris menghapus satu kampung dari peta permukiman.

Di tengah kondisi tersebut, warga mengaku tidak pernah menerima bantuan dana kontrakan senilai Rp10 juta yang disebut-sebut bersumber dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Bantuan itu justru diketahui diterima oleh warga di wilayah lain yang tingkat kerusakannya dinilai tidak separah Babakan Cisarua.

“Warga di sini merasa sangat kecewa. Kampung kami yang paling parah terdampak justru tidak mendapatkan bantuan kontrakan,” ujar Wulan, perwakilan warga, Kamis (8/1/2025).

Menurutnya, Babakan Cisarua telah tiga kali diterjang bencana sejak 2024. Banjir bandang pertama terjadi pada Desember 2024, disusul bencana serupa pada Maret 2025, dan kembali terulang dengan skala paling besar pada Desember 2025.

“Banjir terakhir itu menghanyutkan rumah-rumah warga. Kehidupan kampung seolah berhenti,” katanya.

Warga semakin terpukul setelah mengetahui bantuan kontrakan diberikan kepada warga lain yang rumahnya masih berdiri, sementara mereka yang kehilangan tempat tinggal sepenuhnya tidak memperoleh bantuan serupa.

“Relokasi hanya sebatas wacana. Bantuan kontrakan pun tidak pernah kami terima,” tambah Wulan.

Ketua RT 02 Kampung Babakan Cisarua, Heri, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut wilayahnya merupakan titik awal terjangan banjir bandang Sungai Cidadap yang paling merusak.

“Banjir besar terjadi saat bulan puasa, sekitar waktu menjelang berbuka. Air sungai meluap cepat dan merobohkan rumah warga,” ungkap Heri.

Ia mencatat sedikitnya 13 rumah hancur total. Jika digabung dengan rumah rusak berat dan yang kini hanya menyisakan puing, total terdapat 48 rumah dengan 48 kepala keluarga terdampak.

Heri mengaku telah berulang kali menyampaikan laporan kepada pemerintah setempat, namun hingga kini belum ada langkah konkret yang dirasakan langsung oleh warga.

“Saya berharap pemerintah, khususnya Gubernur Jawa Barat, bisa turun langsung ke lokasi. Banyak warga masih bertahan di puing rumah karena tidak punya pilihan lain,” ucapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga menekan mental warga yang telah lama hidup dalam ketidakpastian.

“Sudah hampir satu tahun kami menunggu kejelasan. Warga hanya ingin tempat tinggal yang layak dan kepastian masa depan,” pungkas Heri.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed